Kamis, 21 Desember 2017

Libreoffice, Semakin Baik Namun Semakin Berat

Libreoffice masih menjadi software opensource pamungkas yang digunakan sebagai aplikasi perkantoran, bahkan sudah menjadi standar di linux. Tapi sayang sekali di lingkungan pendidikan hingga pekerjaan, software ini seperti di diskriminasi. Banyak yang mengeluh karena penggunaannya yang susah. Keluhan yang paling sering adalah susah dipakai karena tata letak menu dan icon-iconnya sedikit berbeda. Saya pikir hal tersebut wajar, sebab masyarakat Indonesia sudah begitu familiar dengan yang namanya Microsoft Office. Tapi bagi saya software ini jelas statusnya Underrated (bagus tapi kurang dikenal). Awalnya saya juga demikian, pengalaman pertama pakai LO memang sedikit kesulitan. Tapi lama kelamaan ternyata software ini terasa mudah digunakan. Bagi saya, yang terpenting disini adalah “Kebiasaan”. Kita akan merasa familliar dengan sesuatu yang baru karena kebiasaan.



Berawal dari kebiasaan akhirnya saya memutuskan install Libreoffice di PC dan Laptop. Bukan saya fanatic tapi saat masih di bangku kuliah, Libreoffice lah menjadi senjata pamungkas saya untuk menangani segala jenis project dari dosen. Accounting, analisis hingga proposal saya tangani dengan Libreoffice. Dengan pertimbangan saya memilih software tersebut karena…

Gratis
Ini tidak munafik, software gratis memang disukai banyak orang termasuk saya. Gratis, legal dan mudah didapatkan ya itulah Libreoffice. Memang ada software lainnya yang gratis, yaitu Kingsoft Office. Kenapa saya tetap ngotot pakai LO? Bukan maksud menjelekkan Kingsoft Office, menurut saya pencipta software tersebut seperti tidak mengikhlaskan produknya secara full gratis alias gratis tanggung. Bagaimana tidak, saya pernah mencoba Kingsoft. Saya akui software tersebut memang bagus, kapasitasnya tergolong kecil dan kemampuan render file yang berukuran besar sangat cepat. Masalah datang setelah masa pemakaian lewat 1 bulan, yaitu muncul watermark pada print dokumen. Cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan membeli versi pro. Wahh kalau begini, saya pikir lebih baik langsung beli saja MS Office. Logikanya kan kalau memang gratis, kenapa tidak digratiskan saja sekalian seperti Libreoffice.

Ukuran File Kecil
Ukuran filenya tergolong kecil hanya sekitar 200 mb lebih. Bermodalkan sedikit kuota, anda langsung bisa download Libreoffice disitus resminya. Ketika install, kapasitasnya juga kecil sekitar 500mb. Software ini tidak membebankan hardisk, anda masih bisa mengoleksi 3gp hahaha.

Portable Version
Masalah classic yang sering terjadi dalam dunia opensource adalah kompatibilitas format Libreoffice dan Ms Office. Adakalanya file yang dibuat pakai LO ketika dibuka di MSO langsung berantakan dan begitupun sebaliknya. Dengan adanya portable version, saya pikir kompatibilitas bukan lagi masalah. Ini salah satu keunggulan Libreoffice, selain disediakan installer, software ini juga tersedia dalam versi portable. Suatu keuntungan bagi saya yang sering mengedit dokumen dengan laptop maupun pc berbeda-beda, yang sudah barang tentu beda juga aplikasi perkantorannya. Saya tidak perlu khawatir lagi  format berantakan karena kompatibilitas. Kita tinggal pasang portable di flashdisk, colok di komputer manapun dan silahkan di edit dengan libre portable.

Cross Platform
Salah satu keunggulan libreoffice adalah bisa pasang di Linux maupun Windows. Awalnya software ini lahir dilingkungan linux, tapi seiring perkembangan eksistensinya mulai menyebar di Windows. Kita harus berterimakasih kepada komunitas opensource, kontribusi mereka menyebabkan LO bisa dikenal dilingkungan windows.


Nah menurut saya itu beberapa kelebihan libreoffice, namun di dunia ini tidak ada yang sempurna. Dalam perkembangannya software ini selalu mengeluarkan update terbaru, entah bug ditambal atau upgrade ke versi berbeda (biasanya tersedianya fitur-fitur baru). Masalah yang sering saya rasakan adalah software ini semakin di update bukannya makin ringan malah tambah berat. Masalah ini saya alami saat memakai Libreoffice versi 5.3.7.

Saat menggunakan Writer dengan membuka dokumen 84 page, gila bikin geram!!! terutama render yang begitu lama ditambah scrolling yang terasa patah-patah. Itu masih full text, lebih para ketika anda memasukkan gambar dan table. 

Percobaan lainnya ketika pakai calc spreadsheet,  yang saya rasakan adalah perpindahan cell’nya jadi berat dan terasa lag. Membutuhkan waktu beberapa detik untuk membuka data paling sederhana. Padahal data yang saya kerjakan tidak terlalu kompleks.

Spek Laptop? Saya menggunakan Toshiba Satellite dengan kapasitas ram 4 GB. Dibanding Libreoffice yang installernya kecil entah kenapa masih sangat ringan pakai Microsoft Office, padahal ukuran MSO bisa dibilang dua kali lebih besar dibanding LO. Saya pikir masalahnya bukan pada spek sebab dulu pakai netbook dengan kapasitas ram 2gb, Libreoffice ini sangat lancar dan cepat. Saya tidak tau apakah pengguna linux mengalami masalah yang serupa.

Di situs resminya, saya baca versi terbaru katanya semakin kompatibilitas dengan Microsoft Office. Format docx misalnya, bisa dibuka dengan baik pakai LO tanpa berantakan. Sangat keren dan inovasi, namun sayang dengan berat hati saya uninstall dan memutuskan memakai versi lamanya, yaitu versi 4.4.5. 

Versi tersebut direkomendasikan oleh bule pada sebuah forum online yang rupanya mereka mengalami masalah yang sama. Versi 4.4.5 tidak saya temukan di situs resminya, tapi syukur akhirnya bisa temukan di situs CNET. Jika tertarik silahkan anda search dan download. Bagi saya versi 4.4.5 yang paling bagus, saya sudah install dan meskipun fitur tidak melimpah tapi saya suka karena sangat ringan. Nah bagi anda yang mengalami masalah serupa dengan saya, maka pilihan terbaik silahkan anda pakai Libreoffice versi 4.4.5.